Rabu, 05 Juli 2017

TUGAS MATA KULIAH PENULISAN KARYA ILMIAH POPULER



Perempuan dan Tuaian Ibu Salon
Oleh: Cindy Anjar Sari
 Setiap Tanggal 21 April kita sebagai warga negara Indonesia khususnya perempuan merayakan Hari Kartini,dari tahun ke tahun sejauh yang kita ingat setiap hari Kartini disekolah diwajibkan memakai pakaian adat daerah dari berbagai pelosok tanah air atau kegiatan‐kegiatan yang berkaitan dengan kewanitaan. Yakinkah kita jika yang merayakan seperti tahu makna Hari Kartini sesungguhnya? Saya rasa tidak semua tahu, Perlu pemaknaan yang jelas dalam perayaan. Sehingga kita sebagai manusia berbudaya tidak hanya menjalankan tradisi tanpa tahu arti.
 Tradisi Kartini pun sepertinya tidak sekedar memakai baju adat kemudian bersolek sehingga para ibu pegawai salon seperti menuai rejeki dengan momen itu. Hari Kartini saat itu seolah mengharuskan siswa bangun pagi untuk segera bergegas ke salon yang sudah di booking nya jauh hari untuk meghindari antrian, segala macam alat rias ditumpahkan ke wajah mungil siswa. Setelah tampak ayu kemudian berkumpul di sekolah. Semua siswa pada hari itu dimodifikasi seolah kartini masa kini. Tidak menjadi masalah memang, namun yang membuat saya kalut setahun yang lalu ketika saya menjumpai beberapa siswa laki-laki menjahilin siswa perempuan yang sudah nampak ayu itu dengan mengejek sanggul rambut yang tak seperti biasanya. Kemudian siswa perempuan itu pun menangis yang sbelumnya diwarnai dengan adu ejek dan perkelahian kecil diantara mereka. Seperti itu perlakuan terhadap Kartini sekarang? Atau justru Kartini sekarang begitu mudah menangis daripada melawan? Perlawanan yang saya maksudkan disini bukan perlawanan kekerasan, berardu agumen menurut saya juga tidak salah, bukankah itu justru melatih kita berbicara dan melatih kita menjaga harga diri kita sendiri. Padahal justru dalam sejarahnya Ibu Kartini malah berusaha mendobrak dominasi kaum pria dimana kaum perempuan bisa sekolah setinggi‐tingginya, dan mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria.
            Tanggal 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini. Penetapan hari khusus untuk kaum perempuan tentu saja tidak terjadi begitu saja. Ada hal yang bisa saja sifatnya mendesak; tetapi dalam pemahaman saya, penetapan seperti ini merupakan suatu bentuk apresiasi sekaligus penghargaan terhadap perempuan. Di samping itu juga dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan semangat kolektivitas para perempuan di Indonesia.
Tapi Ironisnya justru setelah sekian lama kondisi kaum perempuan saat ini masih banyak yang jauh dari harapan, kaum perempuan menjadi budak di negeri orang dan menjadi bahan pelecehan atau diperjual belikan.Yang seharusnya adalah kesetaraan,saling menghormati, saling mendukung,dan saling menjaga kebebasan secara manusiawi.
Di dalam keluarga, di dalam pekerjaan, di dalam masyarakat, masih banyak kita lihat ketidak adilan yang diterima oleh kaum perempuan.Tapi apakah sebagai perempuan harus diam diperlakukan seperti itu. Nasib kita sebagai kaum perempuan ada ditangan kita sendiri,jadi perlihatkan kalau kaum perempuan itu tidak lemah dan mempunyai kekuatan untuk melebihi kaum pria tapi tidak lepas dari tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan ,dan masyarakat sebagai kodratnya kaum perempuan.
         Sosok manusia berjenis kelamin perempuan kerap kali menjadi topik yang sangat fenomenal. Dalam konteks Indonesia, begitu banyak persoalan yang muncul ke permukaan yang bersinggungan langsung dengan perempuan. Artinya obyek utamanya adalah perempuan. Mari kita coba mencermati beberapa fakta berikut ini: Pengiriman TKI ke luar negeri didominasi oleh kaum perempuan. Lagi-lagi perempuan menjadi korban dari human traficking. Permasalahan yang lain adalah pembagian kuota kursi untuk perempuan di DPR yang hanya 30% saja. Tentu saja ini merupakan suatu bentuk diskriminasi dalam realitas politik bagi kaum perempuan. Melihat hal itu, untuk mencapai kesetaraan apakah perlu usaha dobrakan oleh Kartini muda? Seperti dulu Kartini mendobrak dominasi kaum pria dimana kaum perempuan bisa sekolah setinggi‐tingginya.
         Belum lagi persoalan lain semisal domestifikasi terhadap sosok perempuan. Perempuan selalu ditempatkan pada lingkup domestik seperti di dapur, kasur dan sumur. Keterlibatan di dalam ruang publik sering kali dibatasi dengan tindakan superior yang dipertontonkan oleh kaum laki-laki.
         Deretan fakta di atas mencerminkan tentang belum terwujudnya tingkat eguilibrium atau keseimbangan dan kesederajatan antara laki-laki dan perempuan. Menurut Fredrick Engels, kekerasan yang sering kali menerpa kaum perempuan serta berbagai macam bentuk diskriminasi yang mereka rasakan dilakukan oleh para kapitalis dan para lelaki dengan budaya patriarkinya. Kapitalisme dan juga budaya patriarki telah bergandengan tangan untuk melakukan penindasan terhadap wanita. Selanjutnya Engels menulis sebagai berikut: dalam kasus besar saat ini, paling tidak dalam kelas-kelas pemilik, suami bertanggung jawab mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Hal ini memberikan kepadanya suatu posisi supremasi, tanpa membutuhkan title khusus dan hak istimewa. Di dalam keluarganya, ia adalah borjuis dan istrinya mewakili proletariat (Engels, 1957).
Cara pandang yang selalu menempatkan posisi perempuan sebagai obyek dalam segala hal merupakan suatu kekeliruan besar yang selama ini terus diproduksi dan dikonstruksi oleh kebanyakan orang khususnya oleh kaum laki-laki. Perempuan adalah kaum yang lemah, inferior, tidak bisa berdiskusi dan lain sebagainya merupakan stigma yang sering kali disematkan kepada perempuan.
         Perayaan Hari Kartini tidak hanya sekedar perayaan memakai pakaian adat daerah dari berbagai pelosok tanah air atau kegiatan‐kegiatan yang berkaitan dengan kewanitaan setidaknya harus dimaknai sebagai momentum mengembalikan hak-hak perempuan yang mungkin selama ini telah terkooptasi oleh berbagai macam kepentingan (ekonomi dan politik). Mengembalikan hak-hak mereka berarti kita sedang mengembalikan harkat dan martabat mereka, mengembalikan kesederajatan antara laki-laki dan perempuan serta mengembalikan posisi yang sama. Lalu bagaimana caranya? Kebebasan merupakan suatu opsi yang harus segera dilakukan. Konsep kebebasan harus diberikan kepada perempuan. Kaum laki-laki tidak bisa terus memainkan sikap diskriminasi yang memposisikan perempuan pada titik-titik tertentu saja. Ruang kebebasan harus dinikmati secara bersama-sama untuk terwujudnya kesetaraan.

Kamis, 07 Januari 2016

keinget dongeng an ibu disaat aku mau tidur. dulu!

Malam ini, keinget dongeng an ibu disaat aku mau tidur. dulu!
ibuku luar biasa dan tak biasa, masa kecilku dulu (7tahun) ibu tak hanya mendongengi aku tentang cerita peri-peri, cinderela, rapunzel,  namun ibu ku wanita hebat. beliau bahkan menceritakan keherananku tentang lagu lagu lucu yang waktu itu belu bisa aku maknai dengan jelas
Saat itu ceritanya aku disuruh ngapalin lagu gundul-gundul pacul. tapi aku enggan, karena lagunya menurutku aneh dan tampak humor
aku sapai dibelikan vcd lagu lagu daerah untuk menghafalnya, 
singkat cerita , malam telah tiba (udah kaya novel aja nih ya hahaha) akupun tidur gasik pukul 20.30 karena aku masih kecil dan tidak boleh begadang seperti jaman sekarang yaaaa hahahaaa  ketika aku mau tiduurrrr *jenjreeeenggg* 
"mah, lagu gundul gundul pacul itu maknanya apa ya?"
ibuku dengan sabar menceritakan makna lagu gundul gundul pacul vers beliau.
begini nih, " Lagu gundul gundul pacul itu menceritakan seorang pemimpin, C
Cerita ibuku itu udah sangatlah lama, kini usiaku udah 19 tahun ya, so, itu udah 12 tahun yang lalu hahaha dan baru aku paham maknyanya dan bagaimana implementasinya, jadi begini nih ceritanya (tentunya kalimatnya tidak sama persis dengan pengucapan ibuku saat itu, tapi intinya sama kok, masih aku ingat :) )
 Gundul-gundul pacul gembelengan... nyunggi nyunggi wakul kul , Gembelengan... Wakul ngglimpng segane dadi saklatar...  Gundul disini artinya adalah kepala plonthos tanpa rambut yang kita ketahui sendiri ya bahwa kepala itu lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang makanya kepala kita tak boleh sembarang dipegang atau dikasarin orang lain..sedangkan rambut sendiri itu merupakan lambang keindahan kepala, jadi Gundul adalah kehormatan sesorang tanpa mahkota. Pacul adalah alat untuk bertani dimana itu sebuah alat atau cara dan sistem. Gundul pacul artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota namun dia adalah pembaa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya
Gembelengan artinya besar kepala , sombong dan bermain main dalam menggunakan kehormatannya, 
Wakul artinya kesejahteraan rakyat yang iya sunggi dikepalanya, ia junjung tinggi. 
Nyunggi wakul gembelengan  , sekarang banyak sekali para pemimpin yang lupa dirinya bahwa sesungguhnya dirinya sedang mengemban amanah dari rakyatny . tetapi ia malah menyalahgunakan kekuasaan sebagai kemuliaan dirinya, menggunakan kedudukannya untuk berbangga diantara manusia.

Siapa yang lebih kedudukannya, pemilik bakul atau pembawa bakul?  ...tentu jawabannya adalah pemilik bakul, pembawa bakul hanyalah pembantu si pemiliknya
Dan masih banyak pemipin yang membawa bakul gembelengan ( melenggak lenggok) kan kepala dengan sombong dan bermain main.
akibatnyaaa.....
jika pemimpin gembelengan , maka sumber daya alam dan kesejahteraan rakyat akan tercecer kemana mana dan tak terkoordinir. maka gagal lah mengemban tugasnya mengemban amanah rakyat! 
Semoga kita tidak begitu, kita mampu menjadi pemimpin,  setidaknya menjadi pemimpin untuk diri kita sendiri. bahkan menjadi pemimpin  yang bermanfaat bagi orang banyak.  semoga pula kita menjadi pribadi yang memiliki integritas tinggi sehingga siap menjadi suri tauladan dimanapun kita berada, Amin.

dan itu inti dari dongeng ibuku saat aku mau tidur. dulu! dan terimakasih ibu pelajaranmu sangat berharga bu :')

-Cindy anjar sari-

Senin, 30 November 2015

Tugas prezi


prezi make me crazy :D

Tugas poster TIK



Udah bisa baca tapi masih males membaca? butuh moodboster?
yuk mari liat liat poster sederhana buatanku ini ya hihihi :D
pasti semangat haha
 

CINDY ANJAR SARI Template by Ipietoon Cute Blog Design